ARTIKEL

Istilah-istilah Umum dalam Dunia Pertanian


Widodo Dripp

Selasa,30 Agustus 2022

Istilah-istilah Umum dalam Dunia Pertanian

1674

     

Absisi:  Proses pengguguran daun, bunga, atau buah oleh tanaman untuk mengurangi beban metabolism yang melebihi batas kemampuan tanaman tersebut. Contohnya pada tanaman jati saat musim kemarau, pengguguran bunga / buah cabai dan tomat saat kekurangan air.

Acid (asam):  Senyawa kimia yang mempunyai angka pH kurang dari 7 karena pelepasan ion hidrogen (H) dalam suatu cairan atau larutan.

Aerobik:  

  • Sifat makhluk hidup yang mana untuk hidup dan pertumbuhannya memerlukan oksigen bebas. 
  • Suatu kondisi lingkungan dimana terdapat banyak oksigen bebas.

Agensia hayati:  Setiap organisme dari jenis serangga, nematoda, protozoa, fungi, bakteri, virys yang dapat dimanfaatkan sebagai pengendali hama dan penyakit tanaman. Contohnya jamur (gliokladium, metarizium, trikoderma), bakteri (bacillus thurigensis), virus (SpltNPV).

Ajuvan:  Bahan penunjang untuk mendukung kinerja pestisida, baik yang ditambahkan saat formulasi di pabrik (utility adjuvant) maupun ditambahkan saat pestisida digunakan di lapangan (tank mix adjuvant). Terdisi dari pengemulsi, pembasah, penyebar, anti kempal, penembus, buffer, suspending agent, co-solvent dan lain-lain.

Aktivator:  Zat yang berfungsi untuk mengaktifkan daya tahan tanaman dari infeksi pathogen atau ketahanan terhadap kondisi cuaca yang ekstrim.

Alkali (basa):  Senyawa kimia yang mempunyai angka pH lebih dari 7 karena pelepasan ion hidroksil (OH). Contohnya dalam bidang pertanian adalah kalsium hidroksida, kalsium oksida, tembaga oksida, tembaga hidroksida, magnesium oksida.

Anerobik:  Merupakan kebalikan dari istilah aerobik.

  • Sifat makhluk hidup yang mana untuk hidup dan pertumbuhannya memerlukan tidak memerlukan oksigen bebas. 
  • Suatu kondisi lingkungan dimana tidak terdapat banyak oksigen bebas.

Anion (unsur hara):  Muatan ion negatif (-) pada unsur hara.

Anorganik:  Jenis zat atau bahan kimia yang tidak mengandung gugusan karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O).

Antiseptik:  Zat kimia yang menghambat atau mengurangi pertumbuhan mikroorganisme patogen/parasit pada permukaan benda hidup atau benda mati. Contohnya hydrogen peroksida, kalium permanganat, triklosan, borax.

Bentuk formulasi pestisida:  Bentuk fisik dari suatu formula pestisida yang dinyatakan dalam singkatan dan harus dicantumkan setelah tulisan merek dagang pada kemasan pestisida. Contohnya EC, WP, SL, SP.

Bulbus:  Sejenis umbi yang terbentuk dari tumpukan pangkal daun yang tersusun rapat dalam format roset. Lapisan-lapisan tersebut akan tampak apabila umbi lapis dibelah. Contohnya bawang merah.

Dekomposisi:  Proses penguraian bahan-bahan organik kompleks menjadi senyawa-senyawa lebih sederhana dengan bantuan mikroorganisme (jamur ataupun bakteri) dalam kondisi aerobik, menghasilkan senyawa-senyawa yang lebih sederhana yang bisa dimanfaatkan oleh tanaman sebagai nutrisi.

Dem-area (Demonstration Area):  Demonstrasi usaha tani gabungan kelompok dengan penerapan teknologi pertanian pada usaha tani yang dilakukan secara kerja sama antara kelompok dalam satu gabungan kelompok. Luas lahan yang digunakan 25 – 100 hektar.

Demfarm (Demonstration Farm):  Demonstrasi usaha tani dengan penerapan teknologi pertanian pada usaha tani yang dilakukan secara kelompok. Luas lahan yang digunakan 3 – 5 hektar.

Demplot (Demonstration Plot):  Demonstrasi usaha tani dalam ukuran tak terlalu luas (kurang dari 1 hektar) yang ditujukan sebagai percontohan atau peragaan suatu metode maupun teknologi pertanian.

Desinfektan:  Zat kimia yang menghambat atau mengurangi pertumbuhan mikroorganisme patogen/parasit pada permukaan benda mati. Contohnya alkohol, formaldehida, klorin, peroksida, karbol.

Dinding sel:  Lapisan di luar membran sel yang membungkus sel tertentu. Biasanya dinding sel ini terdapat pada tumbuhan, jamur, bakteri, dan jamur.

Dormansi:  Kondisi berhentinya pertumbuhan oleh keadaan yang tidak mendukung pertumbuhan normal. Misalnya dormansi benih yang dialami biji-bijian karena tidak tersedianya media tanam, air, dan nutrisi.

Efikasi pestisida:  Kemanjuran pestisida dalam mengendalikan hama atau penyakit sasaran dengan mempertimbangkan efek negatifnya terhadap lingkungan.

Enzim:  Protein yang berfungsi sebagai pengubah / katalisator dalam setiap proses biokimiawi dalam tubuh tanaman. Nama-nama enzim umumnya berakhiran -ase, misalnya hidrogenase, protease, khitinase.

Faktor abiotik:  Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang tidak berkaitan ataupun disebabkan oleh mahluk hidup. Misalnya faktor cuaca, sifat tanah, suhu udara, musim.

Faktor biotik:  Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang berkaitan ataupun disebabkan oleh mahluk hidup. Misalnya faktor genetik, gangguan hama serangga, serangan penyakit (fungi, bakteri, virus), gangguan gulma.

Fermentasi:  Proses penguraian bahan-bahan organik kompleks menjadi senyawa-senyawa organik sederhana dalam kondisi anaerob atau minim oksigen dengan bantuan mikroba, tujuannya untuk mempercepat dekomposisi bahan organik dalam suatu pembuatan kompos.

Feromon:  zat kimia berupa aroma yang  berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat seksual serangga jantan terhadap betina maupun sebaliknya. feromon buatan yang lazim digunakan di bidang pertanian misalnya metil euginol untuk memikat lalat buah agar masuk perangkap.

Fitotoksik:  Ekek pestisida yang bersifat meracuni tanaman jika digunakan secara salah atau melebihi dosis anjuran.

Fitotonik:  Efek pestisida yang mempunyai sifat menyehatkan dan menyuburkan tanaman disamping manfaatnya sebagai pengendali hama dan penyakit.

Fosfat alam:  Hasil dari penambangan batuan yang mengandung fosfat dan kalsium, dimana unsur fosfatnya masih terikat kuat pada kalsium. Digunakan sebagai pupuk slow release, sebagai bahan granulasi pupuk, dan sebagai pembenah tanah.

Fotosintesis:  Suatu proses biokimia pembentukan karbohidrat dari bahan anorganik yang dilakukan oleh tumbuhan, terutama tumbuhan yang mengandung klorofil (zat hijau daun) dengan mengambil energi dari sinar matahari.

Gambut: lahan basah yang terbentuk dari timbunan bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan dan juga jasad hewan yang membusuk. Banyak ditemui di area genangan air seperti rawa-rawa.

Generatif:  Fase dimana tumbuhan membentuk organ-organ reproduktif berupa bunga, buah, biji.

Granul:  Suatu bentuk pupuk berupa butiran-butiran, contohnya NPK, SP36, TSP.

Gulma:  Tumbuhan liar yang hidup di sekitar tanaman budidaya dan dianggap sebagai pengganggu pertumbuhan tanaman budidaya karena merebut unsur hara. Beberapa diantaranya mengeluarkan senyawa penghambat dari akarnya yang membuat tanaman budidaya tidak dapat tumbuh baik.

Gutasi:  Pengeluaran air dari jaringan daun untuk mengurangi kelebihan air yang terkandung dalam jaringan tumbuhan.

Haustoria:  Organ pada jamur patogen yang menyerupai akar tanaman, menembus ke dalam sel tanaman dan menyerap sari-sari makanan dari tumbuhan inang sehingga menyebabkan tumbuhan inang merana.

Hibrida:  turunan yang dihasilkan dari perkawinan antara dua jenis tanaman yang berlainan untuk menghasilkan sifat-sifat unggul pada turunannya:

Hipertonis:  Larutan pestisida atau pupuk daun yang terlalu pekat melebihi kepekatan cairan sel tanaman sehingga menyebabkan cairan sel terserap keluar.

HSS:  Singkatan dari Hari Setelah Semai, yaitu waktu perlakuan pada tanaman atau aplikasi pupuk / pestisida yang dihitung sejak benih disemai di persemaian.

HST:  Singkatan dari Hari Setelah Tanam, yaitu waktu perlakuan pada tanaman atau aplikasi pupuk / pestisida yang dihitung sejak bibit atau benih ditanam di lahan / media tanam.

Hujan asam:  Hujan yang kandungan pH airnya di bawah 5,7 dimana dapat menyebabkan tanah pertanian menjadi asam, dan permukaan tanaman terlapisi residu asam sehingga mudah terserang jamur pathogen. Lazimnya terjadi di daerah gunung berapi, wilayah pantai, dan pegunungan dimana sering terjadi petir saat hujan dan di kawasan industri rawan polusi udara.

Kation (unsur hara):  Muatan ion positif (+) dari suatu unsur hara.

Kitin (chitin):  Kulit luar yang keras pada serangga, udang, kepiting yang tersusun dari polisakarida dan glukosamin.

Klorofil:  Zat hijau daun berupa butiran-butiran mikro berwarna hijau yang terdapat pada sel-sel tanaman terutama pada bagian daun yang berperan penting dalam proses fotosintesis.

Kompatibilitas pestisida:  Kesesuaian lebih dari satu jenis pestisida yang dicampurkan dalam sekali aplikasi tanpa merusak susunan kimiawi atau sifat-sifatnya serta tanpa mengurangi efektivitasnya.

Kutikula:  Lapisan berlilin yang terdapat pada permukaan batang serta daun yang mencegah penguapan cairan dari tubuh tanaman dan menghambat paparan sinar ultraviolet yang berlebihan.

LD50 (Lethal Dosage 50):  indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat dosis mematikan dari suatu zat yang dapat menyebabkan 50% kematian binatang percobaan. Nilai LD50 rendah, mengindikasikan zat tersebut mempunyai daya racun tinggi. Sebaliknya jika nilai LD50 tinggi mengindikasikan daya racun yang rendah.

Mekanisme kerja pestisida:  Cara kerja pestisida dalam menghambat, melemahkan atau membunuh organisme sasaran. Contohnya racun kontak, racun sistemik, racun lambung, racun pernafasan.

Metabolisme:  Suatu rangkaian proses biokimiawi di dalam tubuh tanaman yang menghasilkan senyawa kompleks hingga organ fisik tanaman maupun senyawa-senyawa kimia yang lebih sederhana dengan bantuan biokatalisator atau enzim. Metabolisme dibagi 2 yaitu:

  • Anabolisme, yaitu pembentukan senyawa yang lebih besar atau lebih kompleks dari unsur-unsur atau molekul-molekul yang lebih sederhana. Contohnya pembentukan, selulose, karbohidrat, protein, lemak dan asam lemak dari unsur-unsur C, H, O, N, S, P. Fotosintesis tergolong proses anabolisme.
  • Katabolisme, merupakan kebalikan dari anabolisme, yaitu perombakan atau pemecahan senyawa-senyawa organik komplaks menjadi senyawa-senyawa lebih sederhana bahkan hingga menjadi unsur hara mineral. Contohnya proses respirasi.

Mode aksi pestisida (Mode of Action / MoA):  Cara aktivitas bahan aktif pestisida bekerja dalam mempengaruhi sistem tubuh sasarannya. Merupakan pembagian lebih detil dari penggolongan mekanisme kerja pestisida.

Nitrifikasi: Proses penyusunan senyawa nitrat (NO3) dari amonia (NH4) dalam tanah yang pada umum nya berlangsung secara aerobik (membutuhkan oksigen). Berlangsung dalam 2 proses yaitu nitritasi, berupa pengubahan amonia menjadi nitrit (NO2) oleh bakteri-bakteri nitrosomonas atau nitrosococcus, dilanjutkan ke proses nitratasi yaitu pengubahan nitrit menjadi nitrat oleh nitrobacter

Monokultur:  Metode penananam hanya satu jenis komoditas tanaman dalam satu lahan.

NPK:  Singkatan dari Nitrogen, Phosphor, dan Kalium. Jenis pupuk yang mengandung unsur makro. Biasanya unsur ini tertera pada kemasannya. Misalnya 15-15-15, menyatakan kandungan unsur N 15%, P2O5 15%, dan K2O 15%.

Organik:  Gugus kimia yang mengandung karbon (C), oksigen (O), dan hidrogen (H). Karena gugus C, H, dan O ini terdapat pada mahluk hidup, maka istilah organik bisa diidentikkan dengan material yang berasal dari sisa / residu mahluk hidup.

Partenokarpi:  Terbentuknya buah tanpa melalui proses pembuahan pada bunga. Misalnya pada tanaman pisang dan anggur tanpa biji. Partenokarpi juga bisa dihasilkan dengan pemberian hormone auksin/ gibberellin, radiasi, dan modifikasi genetik.

Patogen:  Mikroorganisme parasit penyebab penyakit pada tanaman yang terdiri dari jenis virus, cendawan atau fungi, bakteri.

Pengendalian Hama Terpadu (PHT):  Strategi mengendalikan hama tanaman dengan memadukan metode biologis, fisik, dan praktik budidaya yang tepat untuk mencegah dan menekan serangan hama. Dalam PHT penggunaan pestisida kimia hanya sebagai upaya terakhir.

PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria):  Sekelompok jenis bakteri menguntungkan yang hidup dan berkembang biak di sekitar perakaran tanaman.  Kelompok bakteri ini mengeluarkan senyawa-senyawa yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman.

Plasmolisis:  Merembesnya cairan sel tanaman (sitoplasma) keluar akibat kebocoran atau pecahnya dinding sel. Umumnya terjadi karena aplikasi pestisida atau pupuk daun yang terlalu pekat.

Polikultur:  Metode penananam beberapa jenis komoditas tanaman dalam satu lahan, atau tumpeng sari.

Polinasi:  Jatuhnya serbuk sari (pollen) ke kepala putik (stigma) sehingga akan terjadi proses pembuahan. Polinasi bisa terjadi alami, dengan bantuan angin atau serangga, atau bisa juga dengan bantuan tangan manusia.

Porositas tanah:  Prosentase total ruang-ruang kosong diantara partikel-partikel tanah yang dapat ditempati oleh air dan udara atau oksigen, dibandingkandengan volume total tanah.

Primordia:  fase saat tanaman padi mendiferensiasi sel-selnya membentuk organ-organ reproduktif (bunga malai), pemanjangan ruas-ruas malai, pembentukan daun bendera, hingga membentuk bulir dan pengisian. Umumnya pada usia 55 - 85 hari setelah pindah tanam.

Pupuk anorganik:  Pupuk yang terbuat dari bahan-bahan anorganik, misalnya NPK, SP36, KCl, ZA, MKP, MAP.

Pupuk organik: (1)Pupuk yang terbuat dari sisa-sisa / residu mahluk hidup, misalnya pupuk kendang, kompos, guano, kascing. (2) Pupuk yang susunan molekulnya mengandung unsur karbon (C), oksigen (O), dan hydrogen (H), baik yang alami maupun sintetik (buatan). Contohnya urea (NH2CONH2), pupuk humat, pupuk asam amino.

Pupuk hayati:  Jenis pupuk organik yang mengandung beragam mikroorganisme penyedia hara, pembenah tanah, penambat nitrogen, pelepas fosfat, penghasil hormone tumbuh. Contohnya lactobacillus, azolla, rhizobium, mikoriza.

Sel tumbuhan:  Bagian terkecil dari organ tumbuhan yang menyusun / membentuk figur tumbuhan dimana di dalamnya terjadi serangkaian aktivitas biokimia yang menentukan perkembangan tumbuhan tersebut.

Semai:  Menyebar atau menanam benih di media semai sampai benih tersebut tumbuh cukup besar menjadi bibit, yaitu memiliki 2-7 helai daun (tergantung jenis tanamannya). Setelah itu barulah bibit tersebut ditanam di tempat yang sesungguhnya (tempat yang tentunya sudah dipersiapkan).

Spora:  Sel ataupun organ perkembangbiakan pada cendawan / jamur dan beberapa jenis bakteri. Penularan jamur dan bakteri pathogen pada tanaman atau lahan pertanian disebabkan oleh penyebaran spora ini.

Stomata:  Mulut daun, bagian dari permukaan daun berbentuk seperti mulutberfungsi sebagai pintu keluar masuknya oksigen, karbondioksida dan air selama berlangsungnya fotosíntesis dan respirasi.

Surfaktan:  Bahan yang biasanya ditambahkan dalam aplikasi pestisida, ZPT, atau pupuk daun yang fungsinya untuk meningkatkan sifat fisik air menjadi lebih menyebar dan merata.

Unsur hara:  Unsur-unsur kimia yang dibutuhkan oleh tanaman, baik yang didapat oleh tanaman secara alami (mineral tanah, udara, air tanah) maupun yang diberikan oleh manusia melalui pupuk.

Varietas: adalah sekelompok tanaman dari suatu jenis atau spesies yang ditandai oleh bentuk, pertumbuhan, daun, bunga, buah, biji, dan ekspresi karakteristik genotipe atau kombinasi genotipe yang dapat membedakan dari jenis atau spesies yang sama oleh sekurang-kurangnya satu sifat yang menentukan dan apabila diperbanyak tidak mengalami perubahan. 

Varietas lokal: varietas tanaman yang telah ada dan dibudidayakan secara turun temurun oleh petani dan mempunyai sifat-sifat spesifik sesuai dengan kondisi geografis dan klimat setempat. 

Varietas unggul:  Galur hasil pemuliaan yang mempunyai satu atau lebih keunggulan khusus seperti potensi hasil tinggi, tahan terhadap hama, tahan terhadap penyakit, toleran terhadap cekaman lingkungan, mutu produk baik, dan atau sifat-sifat lainnya serta telah dilepas oleh pemerintah.

Vegetatif:  Fase dimana tumbuhan sedang membentuk organ-organ pertumbuhan seperti tunas, cabang, daun, ujung dan serabut akar.

Zat Pengatur Tumbuh (ZPT):  Zat yang digunakan untuk merangsang, mempercepat, maupun menghambat pertumbuhan tanaman. Pengatur tumbuh yang berfungsi merangsang pertumbuhan disebut promotor, contohnya auksin, sitokinin, gibberellin, triacontanol, brassinolide. Sedangkan yang menghambat pertumbuhan disebut inhibitor, contohnya etilen, paclobutrazol, asam absisat. ZPT yang dihasilkan secara alamiah oleh tanaman maupun tiruannya yang disintesis oleh manusia disebut fitohormon.