ARTIKEL

Ketahanan Alamiah Tanaman Terhadap Penyakit & Cuaca


Widodo Dripp

Rabu,01 Januari 2020

Ketahanan Alamiah Tanaman Terhadap Penyakit & Cuaca

     

Beberapa rekan petani pernah bertanya kepada saya, mengapa cabai varitas lokal lebih tahan terhadap serangan virus atau serangan jamur patogen dibanding hibrida? Saya lantas mengibaratkan ayam kampung dengan ayam potong. Bukankah ayam kampung lebih tahan terhadap penyakit dibanding ayam potong. Mengapa demikian?

Mahluk hidup (termasuk tumbuhan) secara turun temurun mewarisi sifat-sifat dari orang tua dan nenek moyangnya. Sifat-sifat itu tersimpan dalam DNA (deoxiribonucleic acid), suatu untaian asam nukleat dalam inti sel yang menyimpan semua informasi tentang genetika / sifat turunan. Dalam rangkaian DNA termasuk pada tanaman, tersimpan informasi sifat-sifat genetika. Sifat-sifat yang tampak secara fisik oleh mata kita misalnya bentuk daun, buah, batang, bunga dan lain-lain disebut Fenotipe. Sedangkan sifat-sifat yang tak nampak secara fisik misalnya rasa buah, sifat respon terhadap tekanan luar seperti cuaca dan iklim serta ketahanan terhadap gangguan hama dan penyakit disebut Genotipe. Masing-masing varitas tanaman punya karakteristik fenotipe dan genotipe yang bervariasi. Ada yang lebih unggu di fenotipe-nya dibanding genotipe-nya, atau sebaliknya.

Disaat tanaman mengalami tekanan cuaca buruk, atau ketika terserang hama, mereka tidaklah tinggal diam. Sifat genotipe mereka aktif dengan usaha bertahan dengan caranya. Terkadang upaya pertahanan tersebut tampak pada gejala fisik tanaman. Contohnya pohon-pohon jati yang kekeringan oleh musim kemarau, responnya dengan menggugurkan daun-daunnya untuk mengurangi penguapan air yang ada di tubuhnya dan mengurangi beban metabolisme agar bisa sekedar bertahan hidup. Yang menarik, menurut penelitian banyak ahli, sekumpulan tanaman bisa saling berkomunikasi melalui semacam sinyal untuk memperingatkan tanaman lain yang sejenis akan adanya ancaman. Selanjutnya tanaman yang menerima sinyal akan bersiaga membentuk daya tahan alamiah untuk mempertahankan diri. Seperti ketika kita memotong tanaman akan tercium suatu bau khas yang sebenarnya merupakan sinyal bagi tanaman lain untuk “waspada”. Tanaman lebih sensitif terhadap bau-bau tersebut dibanding hidung manusia. Sehingga ketika tanaman terserang hama atau penyakit sinyal bau tersebut sebenarnya dikeluarkan dan hanya tanaman sejenis yang mampu merasakan dan meresponnya. Kemudian ketika gangguan tersebut datang, tubuh tanaman akan memproduksi metabolit sekunder yang disebut fenol untuk menangkal gangguan hingga “titik darah penghabisan”. Mirip ketika di suatu kampung ada gangguan keamanan, kebakaran, atau bencana maka warga kampung akan saling berusaha memberikan peringatan kepada warga lainnya untuk bersiaga. Ketika serangan terlalu masif dan di atas ambang toleransi ketahanan tanaman, barulah tampak gejala kerusakan pada tanaman.

Terbentuknya Pertahanan Diri Tanaman

Kapan terbentuknya sistem ketahanan tanaman? Sejak tanaman tumbuh, secara alamiah DNA-nya sudah mengkodekan sistem pertahanan namun dalam kondisi non aktif. Zat pertahanan itu dalam bentuk zat fenol. Dan akan aktif begitu terdeteksi adanya ancaman. Pada fase pertumbuhan (vegetatif) tanaman sangat aktif membentuk zat pertahanan atau fenol ini. Jarang sekali kita lihat tanaman yang masih muda terserang penyakit, atau kalaupun terserang mereka masih mampu bertahan dan tetap tumbuh meski dengan konsekuensi terhambatnya pertumbuhan. Begitu tanaman memasuki fase generatif, pembentukan fenol mulai berkurang drastis. Sebagian nutrisi dan energi yang tadinya untuk membentuk fenol digunakan untuk membentuk organ-organ generatif (bunga & buah). Pada saat inilah tanaman dalam kondisi sangat rentan,  daya tahannya melemah sehingga penyakit mulai lebih leluasa menyerang. Ibarat benteng pertahanan yang sudah rapuh dan mudah ditembus musuh.

Seberapa kerusakan yang dialami tanaman tergantung tingkat serangan dan kemampuan genetik tanaman untuk menangkalnya. Ketika tanaman sudah tak mampu mempertahankan diri, untuk mengurangi tingkat serangan hama dan penyakit ini tentu diperlukan campur tangan dari petani dengan upaya pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida. Dan yang tak boleh terlupakan adalah upaya pemulihan kondisi setelah serangan hama dan penyakit.

Daya Tahan Varitas Lokal vs Hibrida

Ada hubungannya dengan pertanyaan di awal, mengapa varitas lokal lebih tahan terhadap penyakit? Sebenarnya tak hanya varitas lokal yang bisa tahan dari gangguan. Beberapa varitas hibrida yang baru dikembangkan dan belum umum di tanam di wilayah setempat masih punya ketahanan yang relatif baik. Karena pada varita lokal maupun hibrida mempunyai ketahanan bawaan alamiah yang disebut Systemic Acquired Resistance (SAR). Nah ketika tanaman mulai terserang patogen maka SAR ini akan dikerahkan pada bagian yang terinfeksi, disebut Locally Acquired Resistance (LAR). Yang membedakan antara varitas lokal dan hibrida dari segi daya tahan adalah seberapa besar kemampuan dalam membentuk SAR itu dalam merespon patogen. Ini dipengaruhi oleh pola rekayasa genetika tanaman tersebut.

Tanaman varitas lokal secara turun temurun telah membentuk sifat genotipe yang tahan secara alamiah dengan mensintesa senyawa pertahanan dengan baik. Ini bagian dari adaptasi lingkungan / klimat setempat. DNA-nya telah mengkodekan sifat-sifat ketahanan alamiah yang lebih dominan daripada kelebihan-kelebihan fisik.

Berbeda dengan varitas hibrida yang merupakan rekayasa teknologi hasil penyilangan klon-klon yang mengutamakan produktivitas tinggi daripada sifat ketahanan alami. Penyilangan klon-klon dengan mengambil sifat-sifat fenotipe yang unggul menghasilkan tanaman yang vigor, tumbuh cepat, berbuah lebat dan umur produktif yang panjang. Sifat-sifat ketahanan alamiah yang dikodekan oleh DNA untuk menghasilkan SAR telah digantikan sebagian besar dengan sifat-sifat produktivitas yang tinggi. Yang penting hasil panen lebih banyak, berbobot dan berkualitas. Urusan hama dan penyakit serahkan saja pada produk-produk pestisida dan nutrisi tambahan untuk pemulihannya seperti MICRONSEL.  

(bersambung)