ARTIKEL

Pahami MoA Insektisida untuk Mencegah Resistensi Hama


Widodo Dripp

Selasa,08 Juni 2021

Pahami MoA Insektisida untuk Mencegah Resistensi Hama

5036

     

Dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) baik jenis serangga, bakteri, maupun fungi atau jamur menggunakan pestisida, sebaiknya kita kenali istilah MoA (mode of action). Dalam bahasa Indonesianya mode tindakan / mode aksi atau cara kerja. MoA digolongkan berdasarkan cara bahan aktif pestisida tersebut bekerja mempengaruhi sistem organ (tubuh) sasarannya.  MoA dibuat oleh para ahli dari kalangan penemu bahan aktif, formulator, peneliti morfologi organisme, dan pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan bahan aktif pestisida tersebut. Maksud disusunnya MoA adalah memberikan informasi mengenai sasaran aksi pestisida terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT) sasaran, dan sebagai panduan kepada para pengguna dan pihak-pihak berkepentingan (penyuluh pertanian, konsultan pertanian, penyalur pestisida) untuk memilih pestisida secara tepat. Tujuannya menghindarkan terbentuknya resistensi atau kekebalan OPT lebih cepat.

Sebelum kita bahas, perlu dicatat bahwa MoA insektisida tentu berbeda MoA fungisida. Tim yang menyusun MoA untuk insektisida tergabung dalam organisasi IRAC (Insecticide Resistance Action Committee), sedangkan MoA untuk fungisida tergabung dalam FRAC (Fungicide Resistance Action Committee).

Pada artikel kali ini kita bahas terlebih dulu MoA khusus insektisida termasuk di dalamnnya ada beberapa akarisida. Harapannya agar aplikator tidak asal mencampurkan beberapa insektisida dengan MoA yang sama sehingga berdampak mempercepat resistensi hama, dan tentu saja pemborosan biaya.

Pentingnya Memperhatikan MoA

Tak sedikit kebiasaan para aplikator mencampur beberapa insektisida dalam satu kali aplikasi. Alasannya demi menghemat tenaga, waktu, dan efektivitas aplikasi yang lebih baik. Pada faktanya melakukan pencampuran beberapa macam insektisida untuk mendapatkan hasil efikasi yang sesuai harapan tidaklah sesederhana itu. Salah-salah penggunaan inektisida tanpa memperhatikan MoA bisa membuat hama serangga menjadi resisten. Kita menghadapi serangga, mahluk kecil yang memiliki sistem metabolisme sederhana. Oleh karenanya mereka sangat mudah dan cepat beradaptasi mengembangkan sistem resistensi dalam waktu relatif singkat. Ibarat seorang petinju yang sudah terbiasa terkena pukulan berkali-kali sehingga menjadi kebal pukul.

Resistensi serangga terhadap insektisida bersifat genetik menurun. Artinya jika kita mengaplikasikan insektisida tertentu, sebagian hama itu akan mati, sedangkan sebagian lagi yang bisa bertahan hidup akan mengembangkan sistem kekebalan morfologis yang akan diturunkan kepada generasi selanjutnya. Resistensi hama yang tidak disikapi dengan benar akan menimbulnya resurjensi hama, yaitu ledakan populasi hama yang seolah-olah hama sudah terlalu kebal dengan insektisida. Disadari atau tidak fenomena resurjensi ini sudah terjadi di sebagian wilayah pertanian di tanah air ini, salah satu contohnya adalah wereng cokelat.

Untuk menghindari atau meminimalkan terjadinya resistensi dan resurjensi ini maka setiap produk bahan aktif pestisida selalu dipantau secara periodik oleh pihak berwenang. Teknologinya selalu dikembangkan dari waktu ke waktu. Apabila suatu bahan aktif tertentu ditemukan sudah mulai menimbulkan resistensi maka izin edar insektisida tersebut akan dieliminir, dan diarahkan ke varian bahan aktif yang baru.

IRAC, sebagai suatu komite internasional yang berfokus pada penelitian dan pemantauan resistensi terhadap insektisida adalah organisasi yang berkompeten dalam bidang ini. IRAC dibentuk dan beranggotakan para peneliti, inventor bahan aktif insektisida, pengembang dan asosiasi industri pestisida. Bertujuan memberikan pengetahuan kepada para pengguna insektisida tentang sifat-sifat ketahanan serangga, mempromosikandan memfasilitasi pengembangan serta penerapan insektisidasecara efektif untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan kesehatan masyarakat. Komite ini kemudian merilis daftar kelompok insektisida berdasarkan cara kerja atau MoA, dimana MoA ini selalu dikembangkan, direvisi dan diupdate sesuai dengan kondisi lapangan.

Penggolongan Mode of Action (MoA)

MoA digolongkan pada bagaimana bahan aktif pestisida itu bekerja terhadap organ-organ serangga sasaran, disimbolkan dengan kode warna dan membaginya menjadi beberapa grup di bawah ini. Untuk mengetahui secara lengkap bahan aktif insektisida apa saja yang termasuk dalam masing-masing golongan bisa diunduh di link ini : Mode of Action Insektisida versi IRAC v9.4.0, Anda bisa print dan menggunakannya sebagai pedoman dalam setiap kali aplikasi insektisida.

a. Target pada syaraf dan otot (warna tabel biru)

Bekerja dengan menargetkan syaraf dan otot serangga. Terdiri dari grup 1, 2, 3, 4, 5, 6, 9, 14, 19, 22, 28, 29, 30, dan 32. Pada sistem syaraf serangga terdapat saluran-salurang penyampai sinyal-sinyal ke seluruh bagian tubuh yang dikendalikan otak. Sinyal-sinyal tersebut dibawa oleh senyawa organik bernama asetilkolin. Asetilkolin ini dibentuk oleh enzim bernama asetilkoninesterase. Insektisida dalam grup ini berfungsi mengganggu atau menggagalkan terbentuknya enzim asetilkolinesterase sehingga fungsi-fungsi organ tubuh serangga mengalami kelumpuhan dan hingga mengalami kematian. Insektisida yang tergolong dalam mode ini pada umumnya bekerja dengan cepat.

b. Pengganggu pertumbuhan serangga (warna tabel hijau)

Serangga tidak mempunyai kerangka atau tulang belulang layaknya manusia dan hewan mamalia. Tubuhnya disangga oleh kulit luar yang keras ( bayangkan semacam baju zirah / baju perang yang keras dan kuat). Kulit luar yang keras itu disebut khitin. Ada 2 hormon yang terlibat dalam proses pembentukan khitin ini yaitu hormon juvenil dan hormon ekdison . Sepanjang perkembangan siklus hidupnya serangga harus mengalami proses metamorfosa dan pergantian khitin. Proses ganti khitin ini disebut moulting / ganti kulit. Ini terjadi karena khitin tidak bisa berkembang secepat tubuh serangga. Jika kita banyangkan seperti prajurit remaja yang beranjak dewasa dan baju zirahnya tidak cukup lagi dipakai, maka harus ganti yang lebih besar. Jika proses ganti kulit ini terganggu atau gagal maka serangga akan mati.

Selain itu, tubuh serangga tersusun atas lipida yang membentuk dagingnya, terutama saat masih stadia larva / ulat. Jika lipida ini tidak terbentuk dengan baik maka serangga juga akan mengalami kematian. Insektisida yang bertugas mengganggu dan menggagalkan pembentukan khitin dan lipida ini terdiri dari grup 7, 10, 15, 16, 17, 18, 23.

c. Pengganggu pernafasan serangga (warna tabel merah maron)

Insektisida dalam kelompok ini bekerja dengan mengganggu proses respirasi atau pernafasan pada serangga sasaran, menghambat transport elektron dan fosforilasi oksidatif (pembentukan energi oleh adenosine tri phosphate / ATP). Insktisida yang termasuk dalam gologan ini adalah grup 12, 13, 20, 21, 24, 25.

d. Pengganggu sistem pencernaan (warna tabel oranye)

Kelompok racun pencernaan ini bekerja dengan mengganggu / merusak jaringan pencernaan seangga sasaran sehingga serangga yang terkena insektisida ini tidak mampu lagi untuk memakan tanaman. Yang termasuk dalam kategori ini biasanya berupa mikroba atau virus spesifik lepidopteran yang disemprotkan atau diekspresikan dalam bentuk transgenik. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah grup 11 dan 31.

e. Non spesifik (warna tabel abu-abu)

Kelompok non spesifik ini biasa disebut pula uncertain compound. Terdiri dari insektisida berbahan kimia teknis sintetik, senyawa-senyawa botanikal (diperoleh dari ekstrak, minyak, maupun esensi tumbuhan), beberapa mineral aktif, dan sebagian lagi berupa spora cendawan entomopatogen (seperti metharizium anisopliae dan beauveria bassiana). Kelompok ini belum terdefinisikan hingga kini karena belum ada penelitian dari IRAC yang memang tidak ada ketersentuhan kepentingan dengan komersialisasi para produsen pestisida sponsor. Karena belum ada penelitian, maka belum diketahui pula resiko resistensinya. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah grup 8, UN, UNB, UNE, UNF, dan UNM.

 

Menerapkan Insektisida berdasarkan MoA

Pertama Anda bisa mendownload file mode of action di link yang tersedia di atas. Tidak perlu dihafalkan, cukup diprint dan jadikan pedoman setiap kali menghadapi serangan hama. Misalkan saat ini lahan Anda dan sekitarnya sedang menghadapi serangan kutu daun dan thrips. Silahkan cari tahu di petani sekitar atau kios pertanian, bahan aktif apa yang mereka pakai dan cocokkan di tabel termasuk grup yang mana. Misalkan petani di sekitar menggunakan imidakloprid (grup 4A, neonikotinoid) dan abamektin (grup 6, avermektin) yang mana keduanya termasuk racun syaraf. Anda sebaiknya "tampil beda" memilih menggunakan racun syaraf dikombinasi dengan racun penghambat tumbuh serangga, misalnya kartap hidroklorida (grup 14, golongan nereistoksin, racun syaraf) dikombinasi dengan buprofezin (grup 16, penghambat khitin). Demikian pula untuk jenis-jenis hama yang lain seperti golongan ulat. Jika strategi ini masih membingungkan bagi Anda, cukup anda terapkan untuk hama serangga yang sudah mengalami resistensi di wilayah Anda.

Ada sebuah video menarik yang secara singkat dan mudah menjelaskan tentang MoA atau mode tindakan insektisida di sini:

https://youtu.be/CdD1z9ExFxE

Semoga bermanfaat dan
tetap semangat dalam bertani!


"Jangan pernah patah semangat karena orang kalah adalah mereka yang berhenti berusaha."