ARTIKEL

Macam-macam Faktor Penyebab Gangguan Pada Tanaman


Widodo Dripp

Senin,01 April 2019

Macam-macam Faktor Penyebab Gangguan Pada Tanaman

     

Budidaya pertanian tentu tak bisa lepas dari masalah-masalah yang mengganggu tanaman bahkan mengancam keberhasilan panen. Setiap gangguan yang dialami oleh tanaman akan berpotensi mengurangi produktivitas panen, bahkan bisa menjadi penyebab kegagalan. Oleh karenanya setiap gangguan pada tanaman harus kita upayakan penanganannya agar dampak yang merugikan bisa diminimalisir sesegera mungkin, seefisien dan seefektif mungkin. Efisiensi dan efektivitas akan dapat tercapai apabila kita mendayagunakan sarana dan metode yang tepat sesuai dengan tipe gangguan yang terjadi. Oleh karenanya kita harus betul-betul mengenali penyebab-penyebab gangguan fisiologis tersebut baik dari gejala fisik, kronologi perlakuan pada tanaman, maupun mengamati kondisi lingkungan.

Kesulitan yang dialami oleh banyak rekan petani selama ini adalah mengenali penyebab suatu gejala. Hal ini karena satu gejala dengan gejala lain mempunyai kemiripan dan bisa saja disebabkan oleh salah satu atau beberapa diantara sekian faktor penyebab. Sebagai perumpamaan, pusing itu adalah suatu gejala rasa nyeri di kepala yang kita rasakan secara langsung. Faktor penyebabnya bisa bermacam-macam, seperti terlalu banyak memikirkan masalah, kepala terbentur, tekanan darah rendah, dan lain sebagainya. Perumpamaan lain misalnya ketika motor kita macet, faktor penyebab bisa saja kehabisan bahan bakar, kerusakan spare part tertentu, maupun gangguan elektrikal. Demikian pula pada tanaman, misalnya daun berwarna kuning, penyebabnya bisa bermacam-macam seperti kekurangan atau keracunan unsur hara tertentu, kegagalan metabolisme, faktor genetik, atau karena terserang penyakit oleh patogen tertentu seperti virus. Tanda-tanda visual pada tanaman, seperti daun yang menguning itu disebut gejala atau simtom. Dari gejala yang nampak tersebut lantas kita mencari penyebabnya dengan mengumpulkan beberapa kemungkinan dan menyaringnya menjadi beberapa penyebab yang disebut indikasi. Proses mencari penyebab gejala inilah yang disebut dengan diagnosa hingga nantinya diketahui atau disimpulkan faktor penyebab yang jelas. Kemudian kita sudah bisa menentukan sarana dan metode yang tepat untuk mengatasi gangguan tersebut.

Untuk dapat menerapkan teknik diagnosa dan penanganan gangguan tanaman, kita perlu mengenali tipe-tipe faktor penyebab gangguan pada tanaman. Penyebab gangguan tanaman dibedakan menjadi 2 jenis faktor, yaitu faktor biotik dan faktor abiotik.

FAKTOR BIOTIK

Segala gangguan pada tanaman yang disebabkan oleh mahluk hidup atau organisme disebut faktor biotik. Faktor biotik dibedakan menjadi :

  • Patogenik

Disebabkan oleh mikroorganisme yang menimbulkan penyakit atau penyimpangan metabolisme, diantaranya jamur, bakteri, virus. Masuknya mikroorganisme (bakteri dan virus) atau sebagian organ (haustoria jamur) dari patogen ke dalam jaringan tanaman untuk menimbulkan penyakit ini disebut infeksi. Gangguan patogen ini bisa menyebar luas pada satu tanaman dan menular dari satu tanaman ke tanaman lain. Untuk mendeteksi “organisme pelaku” dari gangguan patogenik ini sulit dilakukan dengan mata telanjang dan membutuhkan alat seperti mikroskop. Yang bisa diakukan untuk mengenali pelakunya adalah dengan cara mempelajari dan mengamati  gejalanya.

  • Non patogenik

Disebabkan oleh organisme yang berakibat kerusakan atau pelukaan fisik secara kontak langsung misalnya tikus, ulat, serangga seperti jangkrik, uret, atau nematoda. Organisme pengganggu non patogen inilah yang biasanya disebut dengan hama. Terdiri dari golongan insekta (serangga) dan hewan bertulang belakang seperti tikus, burung dan babi hutan. Meski tidak menular, perkembangan populasi dari hama-hama ini dapat menimbulkan kerusakan yang lebih luas dan menjadi vektor terhadap infeksi organisme penyebab patogen. Contohnya serangga aphid, thrips dan tungau dapat menjadi vektor bagi infeksi virus. Pelukaan oleh ulat, nematoda, bisa menjadi jalan masuk bagi infeksi bakteri ke dalam tubuh tanaman. Gangguan hama lebih mudah dideteksi karena bisa dilihat dengan mata telanjang sehingga tidak terlalu sulit menentukan jenis pestisida apa yang akan dipakai.

Kesalahan perlakuan manusia terhadap tanaman juga bisa dikategorikan sebagai faktor non patogenis. Contohnya antara lain kesalahan pemberian pupuk, penanganan sanitasi dan drainase lahan, penggunaan pestisida yang melebihi ambang fitotoksik dan lain sebagainya. Oleh karenanya petani harus memperkaya pengetahuan dan wawasan teknis yang memadai dalam budidaya tanaman agar kesalahan-kesalahan perlakuan tidak terjadi.

  • Kompetisi

Disebabkan oleh adanya persaingan antara tanaman pokok dengan tanaman yang dianggap sebagai pengganggu seperti rumput dan gulma di dalam perebutan unsur hara dan biasanya menimbulkan kerugian bagi tanaman pokok. Dalam persaingan ini tumbuhan gulma yang secara alamiah mempunyai ketahanan lebih kuat dibanding tanaman pokok yang dibudidayakan akan memproduksi zat alelopati melalui akarnya. Alelopati ini merupakan zat penghambat pertumbuhan tanaman pokok, sehingga dengan leluasa tanaman gulma akan menguasai unsur-unsur hara untuk kepertingannya sendiri.

Kompetisi ini tidak hanya terjadi antara gulma dengan tanaman pokok, tetapi juga antara sesama tanaman pokok yang dibudidayakan secara tumpang sari. Terjadi pula antara tanaman inang dan tumbuhan parasit yang membajak nutrisi secara langsung dengan cara menempel pada tumbuhan inangnya.   

FAKTOR ABIOTIK

Yaitu faktor yang tidak disebabkan oleh mahluk hidup, diantaranya :

  • Cuaca dan iklim

Cuaca yang tidak stabil dan cepat berubah secara mendadak membuat metabolisme tanaman mengalami kekacauan. Tanaman harus selalu melakukan adaptasi setiap saat, sedangkan aktivitas adaptasi memerlukan energi. Ketika dari sinar matahari tidak mencukupi lagi maka tanaman akan mengambil cadangan energi yang disimpan dalam bentuk gula / glukosa dengan cara mendegradasinya, aktivitasnya disebut katabolisme. Pengambilan cadangan energi dari glukosa tentu saja akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hal ini sering terjadi pada tanaman di saat peralihan musim, atau saat pertengahan musim kemarau dimana terjadi perbedaan suhu antara siang dan malam yang cukup ekstrim (bhs. Jawa : musim bedinding). Gejalanya adalah pertumbuhan tunas-tunas yang berhenti, tunas menjadi mengeriput, keriting dan kaku, yang selama ini banyak disangka karena serangan virus.

Terkurasnya energi metabolisme membuat tanaman terforsir. Kita sering menyebutnya stress. Tanaman akan kehilangan kemampuan memproduksi zat-zat pertahanan alamiah yang disebut fitoaleksin. Tanpa adanya pertahanan maka hama dan patogen lebih leluasa menyerang tanaman. Serangan hama dan patogen ini merupakan dampak sekunder dari keterbatasan tanaman dalam merespon perubahan cuaca yang ekstrim.

Pada musim kemarau dimana tanaman sulit mendapatkan air juga merupakan faktor gangguan abiotik, demikian pula saat musim hujan terjadi genangan air yang berlebihan atau kebanjiran.

  • Fisiologis

Faktor gangguan fisiologis disebabkan oleh tidak tercukupinya kebutuhan tanaman untuk menjalankan silkus hidupnya. Ketidakseimbangan unsur hara dan kecukupan air merupakan penyebab utama gangguan fisiologis. Ketidakseimbangan unsur hara bisa berati terjadinya defisiensi atau kekahatan maupun berlebihnya unsur hara yang berakibat pada toksisitas. Adapun defisiensi unsur hara tidak selalu karena minimnya ketersediaan unsur hara saja tetapi bisa berarti tidak terserap atau tidak termanfaatkannya unsur hara meskipun sudah dalam bentuk tersedia. Ketidakseimbangan ketersediaan unsur hara ini dipengaruhi banyak faktor diantaranya kondisi tanah sebagai media tanam dan macam pupuk yang diberikan ke tanaman sebagai sumber hara. Beberapa gejala kekahatan maupun keracunan unsur hara mempunyai kemiripan diantaranya terjadinya nekrosis.

Selain masalah unsur hara, toksisitas atau keracunan pestisida akibat dosis aplikasi berlebihan maupun pencampuran yang tidak tepat juga termasuk faktor fisiologis karena berkaitan dengan kerusakan dan kelumpuhan sel-sel tanaman.

  • Media atau tanah (faktor edafis)

Tanah merupakan lapisan bumi dimana merupakan media untuk tumbuh dan berkembangnya akar sebagai organ vital bagi tanaman di dalam menyerap unsur-unsur hara dan berperan sebagai pondasi yang menunjang struktur tubuh tanaman. Terjadinya masalah-masalah fisik, biologi dan kimia tanah akan berpengaruh pada tanaman yang tumbuh di atasnya. Perubahan fisik, kimia dan biologi tanah tidak terjadi secara serta merta melainkan dalam jangka waktu relatif lama. Pemberian pupuk yang tidak berimbang, minimnya pemberian amelioran atau pembenah tanah, minimnya kandungan bahan-bahan organik secara perlahan akan menurunkan daya dukung tanah terhadap pertumbuhan tanaman. Masalah perubahan fisik tanah meliputi mengerasnya tekstur tanah sehingga mempersulit akar untuk berkembang, kehilangan porositas yang mengakibatkan minimnya oksigen, densitas atau kerapatan partikel yang menyebabkan drainase buruk, kehilangan daya absorpsi air maupun terlalu lama menahan genangan air. Masalah sifat kimia tanah terkait dengan tidak stabilnya pH tanah, minimnya mineral tanah dan hara yang tersedia, rendahnya kapasitas tukar kation, dan ketidakkeseimbangan C/N ratio. Sedangkan masalah biologi tanah terkait dengan ketersediaan populasi mikroba tanah yang berperan dalam membantu mengubah unsur-unsur hara dalam bentuk tersedia (misalnya unsur N menjadi nitrat atau amonium, fosfat tak larut menjadi terlarut), mempercepat dekomposisi sisa-sisa tanaman sebelum dimanfaatkan oleh mikroba patogen tanah, serta produksi senyawa-senyawa antibiotik untuk menekan perkembangan patogen.

Masalah menurunnya daya dukung media tanah terhadap pertumbuhan tanaman ini akan dipercepat oleh adanya pencemaran tanah oleh limbah rumah tangga maupun industri.

  • Atmosfer

Yang dimaksud di sini adalah terjadinya perubahan kondisi atmosfir dimana atmosfer merupakan aspek yang melingkupi dan bersentuhan langsung dengan tubuh bagian atas tanaman. Salah satunya adalah polusi udara berupa akumulasi gas-gas dan partikel ringan di udara yang sewaktu-waktu turun ke permukaan bumi. Buangan asap kendaraan bermotor dan industri, serta pembangkit energi yang mengandung karbon monoksida (CO), sulfur oksida (SOx), nitrogen oksida (NOx), benzena dan timbal dalam konsentrasi tertentu akan mengganggu proses fotosintesis tanaman. Faktor ini memang jarang mendapatkan perhatian karena tidak terlalu terasa signifikan dampaknya pada tanaman secara langsung. Namun mulai sekarang harus kita garisbawahi, bahwa polutan-polutan ini akan berdampak langsung pada tanaman manakala turun ke permukaan bumi, dibawa oleh air hujan yang membasahi tanaman. Dan dalam pengamatan kami dampak ini akan muncul di saat awal-awal turun hujan setelah musim kemarau. Dimana saat musim kemarau polutan terus terakumulasi di atmosfir dan menyebar, kemudian saat turun hujan di awal musim kemarau udara seperti dicuci oleh air hujan dan polutan-polutan tersebut akan kontak langsung dengan permukaan tanaman dan tanah-tanah pertanian. Jika kita perhatikan hujan di awal musim ini biasanya membuat tanaman yang peka seperti melon, semangka, timun, cabai, tomat dan beberapa lainnya terhambat pertumbuhannya bahkan menyebabkan gejala keriting di pucuk (puret).  

Gangguan tanaman yang disebabkan oleh faktor-faktor abiotik maupun abiotik pada umumnya bisa saja saling terkait. Misalnya saat cuaca tidak stabil (abiotik/cuaca) menyebabkan metabolisme tanaman mengalami kekacauan (fisiologis) sehingga daya tahan alami tanaman menurun memberikan peluang bagi patogen (biotik/patogenik) untuk menyerang tanpa perlawanan. Perempelan tunas-tunas lateral yang dilakukan tanpa memperhatikan kebersihan alat atau tangan akan memberi peluang masuknya bakteri patogen dan virus melalui bekas luka pada tanaman yang tadinya sehat. Contoh lain, hujan asam yang tidak segera dinetralisir akan menciptakan kondisi yang mendukung perkecambahan spora jamur patogen. Dan masih banyak keterkaitan lainnya. Dari sinilah munculnya konsep pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman) terpadu. Yaitu ketika kita megendalikan hama dan patogen penyebab penyakit yang merupakan faktor biotik, sebaiknya juga tidak mengabaikan faktor-faktor abiotik yang mempengaruhinya. Disamping itu di dalam pengendalian gangguan-gangguan biotik seperti serangan patogen maupun hama serangga, sebaiknya juga dibarengi dengan upaya-upaya mengatasi gangguan fisiologis yang terjadi akibat kerusakan organ-organ tanaman oleh serangan patogen dan hama. 


Selamat bertani, semoga sukses!