ARTIKEL

Penyebab Busuk Pantat Buah Tomat dan Pengendaliannya


Widodo Dripp

Jumat,12 April 2019

Penyebab Busuk Pantat Buah Tomat dan Pengendaliannya

9466

     

Tentulah ada perasaan nyesek manakala tanaman tomat yang telah kita dari kecil pas saatnya berbuah tahu-tahu mengalami masalah busuk pantat buah. Gejala ini disebut blossom end rot (BER). Sepintas bagian bawah buah tomat terlihat seperti terkena serangan jamur atau bakteri. Bisa terjadi pada buah muda maupun masak. Namun sebenarnya gejala busuk pantat buah atau blossom end rot (selanjutnya kita sebut singkat BER) itu merupakan masalah fisiologis dan tidak ada kaitannya dengan infeksi patogen. Memang adakalanya ditemukan bercak-bercak khas serangan jamur. Tetapi itu merupakan masalah sekunder atau ikutan, dimana sel-sel buah yang telah mati dimanfaatkan oleh jamur patogen untuk tumbuh.

Dari pengalaman rekan-rekan petani kerugian yang ditimbulkan akibat BER ini bervariasi, antara 10% hingga 30%. Gejala diawali adanya bercak berwarna gelap pada ujung buah, selanjutnya berkembang menjadi semacam cekungan cokelat ketitaman. Ujung buah akan mengkerut, bentuknya pipih dan daging buah dalam setiap dompolan menjadi busuk basah atau busuk atau mengering.

Gejala BER biasanya muncul di saat awal-awal musim hujan maupun menjelang akhir musim hujan, dimana intensitas hujan tidak terlalu tinggi. Buah yang terserang sudah pasti akan rusak. Akan lebih menyedihkan jika kita terlambat atau salah penanganan, mengira itu adalah gejala serangan penyakit akibat patogen sehingga kita terlanjur menggunakan pestisida, namun gejala tak kunjung mereda malahan semakin parah. 

BER seringkali dikaitkan dengan kekurangan unsur kalsium (Ca). Pendapat ini benar, akan tetapi defisiensi kalsium bukan satu-satunya faktor penyebab BER. Untuk lebih memahaminya, kita bahas lebih detail tentang penyebab BER ini.

BER paling berpotensi terjadi disaat cuaca hujan dan panas silih berganti. Kronologi munculnya BER  sebagai berikut :

  1. Ketika hujan turun, air membasahi seluruh tubuh tanaman tomat tak terkecuali buah.
  2. Ketika hujan reda, sisa-sisa air yang membasahi buah luruh ke bagian bawah buah oleh gaya gravitasi.
  3. Air mengumpul di bagian pantat buah yang kebetulan merupakan area yang paling lunak dan kulitnya tipis.
  4. Kulit buah di bagian bawah menjadi turgid (terisi air), jika berlangsung lama maka sel-selnya akan mengalami lisis (yaitu kerusakan sel yang salah satu penyebabnya karena sel terlalu kenyang oleh air), menjadi lebih lunak dan mulai membusuk.
  5. Di saat cuaca panas, kadar air dalam sel-sel di area pantat buah akan berkurang dengan cepat kemudian mengering, menyebabkan pantat buah keriput, warnanya lebih gelap dan terjadilah BER.

Selain guyuran air hujan, penyemprotan pupuk daun atau pestisida yang pH-nya terlalu asam dengan volume semprot berlebihan juga bisa mengakibatkan BER. Bahan aktif pestisida maupun unsur hara pupuk daun yang larut dalam air tidak diserap atau sangat sedikit diserap oleh buah. Air larutan pupuk daun atau pestisida yang luruh dan terakumulasi di pantat buah jika terpapar cuaca panas akan bertambah pekat (hipertonis) atau mengering dan menyebabkan kulit buah mengalami plasmolisis (yaitu terserapnya cairan sel keluar). BER yang disebabkan plasmolisis cirinya bagian pantat buah mengering, cekung dan lebih kaku.

Gambar di bawah adalah ilustrasi terjadinya blossom end rot,

 

Sebelum terlambat, sebaiknya BER ini dicegah dan diminimalisir dengan serangkaian cara terpadu, diantaranya :

  1. Mencukupi unsur kalsium (Ca) pada saat olah tanah dengan penaburan dolomit. Unsur Ca berperan dalam pembentukan dinding sel. Terpenuhinya kebutuhan unsur Ca membuat tanaman lebih kokoh, dinding sel batang dan buah lebih tebal dan kuat.
  2. Saat tanaman mulai berbuah waspadai hujan yang turun malam hari dimana cuaca keesokan harinya berpotensi panas dan terik. Biasanya terjadi saat awal musim hujan dan menjelang akhir musim hujan. Segera lakukan penyemprotan mineral pelindung KLINOP untuk menyerap keasaman air hujan, sekaligus mencegah terjadinya lisis. Utamakan penyemprotan dari bagian bawah buah (dengan nozel menghadap ke atas).
  3. Hindari penyemprotan pupuk daun yang bersifat asam hingga membuat buah kuyup, terutama yang mengandung nitrat tinggi. Pupuk daun yang disarankan untuk masa berbuah adalah FOCUS-K yang mempunyai kisaran PH 7,5 untuk menghindari resiko terjadinya BER.
  4. Apabila melakukan aplikasi pestisida sebaiknya atur volume semprot rendah hingga sedang sehingga tanaman tidak terlalu basah kuyup. Untuk membantu perataan dan pembasahan tambahkan surfaktan atau adjuvant (RATAFOL).
  5. Jika BER terlanjur terjadi karena terlambat melakukan upaya pencegahan, maka yang bisa kita lakukan adalah mencegah / menghambat agar buah-buah yang masih sehat tidak ikut terkena. Penambahan unsur Ca sangat diperlukan sebagai tindakan emergency untuk meningkatkan ketebalan dinding sel kulit buah. Kalsium yang direkomendasikan adalah BLACK CALCIUM yang berbentuk WP dan dilengkapi mineral kationik dan humat, mempunyai pH 7,5 sehingga tidak dikhawatirkan menimbulkan dampak keasaman daun yang merangsang inkubasi jamur patogen.

Karena merupakan gangguan fisiologis, BER memang tidak menular. Akan tetapi tanpa penanganan yang cepat dan benar dikhawatirkan jumlah kerusakan buah akan semakin banyak dan kerugian yang kita alami semakin besar. Upaya yang paling tepat adalah mengenali saat-saat dan kondisi paling berpotensi terjadinya BER, kemudian kita melakukan antisipasi sebagaimana cara-cara yang telah dijelaskan di atas.
 



"Selamat bekerja ! Memahami penyebab masalah dan mencegahnya adalah langkah terbaik."