ARTIKEL

Yang Perlu Dilakukan untuk Menyehatkan Tanah Kembali


Admin

Jumat,12 April 2019

Yang Perlu Dilakukan untuk Menyehatkan Tanah Kembali

     

Tanah merupakan media penting bagi pertumbuhan tanaman. Di dalamnya tersedia komponen-komponen utama untuk pertumbuhan tanaman berupa unsur-unsur hara mineral dan bahan organik. Selain itu tanah juga sebagai media penampung air dan menyediakan ruang sirkulasi udara, serta berfungsi sebagai media tunjangan mekanik akar. Tanah juga menjadi habitat bagi mikroorganisme tanah yang bersimbiosis saling menguntungkan dengan akar tanaman. Semua daya dukung tersebut harus seimbang agar pertumbuhan tanaman baik dan berkelanjutan.

Tanah dikatakan subur apabila bisa menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan tanaman agar tumbuh dengan baik misalnya unsur hara, sirkulasi udara dan air. Kesuburan tanah dibedakan menjadi 2  macam yaitu :

  • Kesuburan aktual, yaitu kesuburan alamiah atau asli, terdapat pada tanah-tanah yang belum mampu menyediakan unsur-unsur hara dan bahan organik secara melalui siklus alami tanpa campur tangan rekayasa teknologi, misalnya hutan.
  • Kesuburan potensial, yaitu kesuburan maksimum yang didapat dari intervensi teknologi, diantaranya pengairan, pemupukan tambahan (baik pupuk organik maupun anorganik), pengolahan tanah dengan peralatan.

Kesuburan tanah selama ini diidentikkan dengan ketercukupan unsur hara bagi kebutuhan tanaman. Namun jika kita bicara tentang kesehatan lahan, akan lebih luas lagi. Tanah dikatakan sehat apabila mampu menjadi media pertumbuhan bagi tanaman untuk hidup dan berkembang tanpa kendala yang berarti. Tidak hanya cukup tersedia unsur hara dan bahan organik saja tetapi juga bebas dari infestasi patogen, tidak mengalami kejenuhan anion, serta mempunyai sifat fisik, kimia dan biologi yang bagus. Pada tanah yang subur dimana unsur-unsur hara, bahan organik, air dan sirkulasi udara tercukupi tidak dapat dikatakan sehat jika di dalamnya terinfestasi bibit-bibit patogen.  Tanah yang subur juga belum tentu dapat melepaskan unsur-unsur hara dalam bentuk tersedia (available) bagi tanaman.

Menurunnya kesehatan tanah disebut degradasi lahan berpengaruh pada menurunnya daya dukung tanah untuk pertumbuhan tanaman budidaya. Degradasi lahan pada umumnya sebagai akibat dari penanaman yang intensif atau terus menerus, yang berdampak pada :

  • Perubahan sifat kimia tanah

Pupuk kimia yang kita berikan ke dalam tanah hanya sebagian yang berubah menjadi bentuk tersedia. Sebagian akan terikat pada partikel tanah atau berubah menjadi bentuk yang tidak tersedia dan menjadi residu yang terakumulasi di tanah. Residu yang terakumulasi pada tanah sepanjang waktu membuat tanah menjadi masam dan jenuh oleh garam mineral. Kejenuhan ini bisa menjadi racun bagi akar tanaman atau mempersulit reaksi perubahan unsur hara menjadi tersedia.

  • Perubahan sifat biologi tanah

Pada tanah yang masih sehat terdapat populasi mikroba saprofit yang yang menguntungkan bagi tanaman. Mikroba ini antara lain yang dikenal sebagai PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) dan beberapa golongan fungi seperti mikoriza. Mikroba ini berkembang di sekitar perakaran dengan memanfatkan eksudat akar dan menghasilkan senyawa-senyawa enzim pengubah unsur hara menjadi bentuk tersedia, fitohormon, dan senyawa-senyawa protektan. Kejenuhan bahan kimia, tidak berimbangnya anion dan kation, keasaman yang terlalu tinggi (pH rendah) akan mengurangi populasi mikroba-mikroba baik tersebut. Dengan punahnya mikroba-mikroba ini maka tanah akan semakin tergantung pada pupuk kimia sintetis. Tak ada lagi mikroba yang berperan dalam medekomposisi bahan-bahan organik sisa tanaman.

  • Perubahan fisik tanah

Sifat fisik tanah terdiri dari tekstur, struktur, konsistensi, berat volume, berat jenis, porositas, warna dan temperatur. Kesemuanya membentuk densitas tanah atau suatu ukuran kerapatan tanah. Pada tanah poros dengan tekstur yang remah, ringan dan berpori merupakan contoh fisik tanah yang ideal untuk perkembangan tanaman. Pemberian pupuk kimia sintetik yang terus menerus, dan juga pemberian pupuk organik yang berlebihan akan membuat keseimbangan yang ideal itu menjadi terganggu. Densitas tanah yang terlalu tinggi (rapat) akan membuat sirkulasi oksigen buruk, tidak mampu menjerap air, dan keras sehingga sulit diolah. Sedangkan densitas tanah yang terlalu rendah akan membuat tanah terlalu poros sehingga akar tidak mendapat tunjangan yang kuat, menyimpan air berlebihan, mudah terkikis atau erosi.

  • Akumulasi alelopati

Salah satu sisa metabolisme yang dihasilkan tanaman adalah zat alelopati yang dikeluarkan melalui akar. Alelopati ini berfungsi sebagai antibiotik alami yang membunuh mikroorganisme patogen tanah, sekaligus merupakan zat untuk menghambat pertumbuhan tanaman lain yang yang dianggap pesaing dalam memperebutkan unsur hara. Contoh tanaman yang aktif menghasilkan alelopati adalah gulma dan rumput liar. Alelopati tidak hanya menghambat tumbuhan yang berbeda namun juga saling menghambat tumbuhan yang sejenis. Itulah sebabnya sangat dianjurkan mengatur jarak tanam agar tidak terjadi persaingan antar tanaman. 

  • Infestasi patogen

Pada lahan yang mempunyai sejarah pernah terserang penyakit soil borne (tular tanah) misalnya bakteri pseudomonas dan ralstonia atau jamur fusarium dan pythium, mempunyai potensi akan terkena serangan lagi pada penanaman setelahnya. Hal ini karena spora-spora patogen terinfestasi di dalam tanah dalam kondisi dorman, dan suatu saat akan pecah dorman dan berkembang menjadi masalah bagi tanaman. 

Ciri-ciri Tanah yang Tidak Sehat

Mengetahui sehat atau tidaknya tanah bisa dibilang tidak mudah. Kita perlu mengamati fisik tanah dan pertumbuhan tanaman, hingga menelusuri sejarah serangan penyakit patogen tular tanah pada musim-musim tanam yang lalu. Selain itu perlu pengukuran pH tanah dan analisis unsur hara, namun cara ini relatif tidak gampang bagi kebanyakan petani. Selain merepotkan juga memerlukan biaya untuk membeli pH tester dan biaya jasa analisis tanah di laboratorium.

Dengan sedikit ketelitian pengamatan kita dapat mengetahui ciri-ciri tanah yang tidak sehat diantaranya :

  1. Padat dan keras sehingga sulit dicangkul.
  2. Jika digenangi air selalu terdapat buih di permukaan air.
  3. Tidak mampu mengikat air dengan baik, tanah cepat kering jika cuaca terik.
  4. Jika dipupuk tidak tampak pengaruh yang nyata pada tanaman.
  5. Jika diukur pH-nya menunjukkan angka pH yang rendah (asam) atau tinggi (alkali).
  6. Dilihat dari sejarah tanaman sebelum-sebelumnya sering terserang patogen tular tanah.
  7. Perakaran tanaman tidak dapat berkembang normal.                                  

Menyehatkan Tanah Kembali

  1. Selalu bersihkan lahan dari sampah-sampah plastik, dan sisa-sisa tanaman yang terserang penyakit.
  2. Sebelum tanam atau tepatnya setelah olah tanah biarkan lahan terpapar sinar matahari selama beberapa hari untuk mematikan bakteri-bakteri patogen dan membebaskan gas-gas yang terjebak di tanah secara optimal.
  3. Usahakan melakukan pergiliran tanaman setidaknya 1 kali setahun dengan menanam tanaman yang bisa membersihkan sisa-sisa residu pupuk kimia misalnya dengan tanaman legum (kedelai atau kacang hijau), dan tumbuhan berakar serabut misalnya jagung.
  4. Pada lahan-lahan sawah apabila jerami akan dimanfaatkan sebagai pupuk organik sebaiknya lakukan pengomposan di lokasi tersendiri, jangan memasukkan jerami segar ke dalam tanah.
  5. Jika tanah terindikasi asam, gunakan dolomit yang ditaburkan di permukaan tanah sebelum tanah diolah.
  6. Dalam pemupukan gunakan dosis sesuai rekomendasi, jika masih terdapat kekahatan berikan pupuk melalui daun.
  7. Penggunaan bahan-bahan pembenah tanah seperti zeolit, asam humat, dan pupuk organik seperti pupuk kandang dan kompos.
  8. Penggunaan pupuk organik yang sudah terfermentasi sempurna secara proporsional sebagai pembenah tanah dan penyedia karbon organik. Pemberian pupuk organik yang terlalu berlebihan juga merugikan kondisi tanah karena tanah akan menjadi alkali dan menyebabkan C/N ratio terlalu tinggi. C/N ratio tanah yang ideal untuk pertanian berkisar antara 12 – 15.
  9. Aplikasi mikroorganisme yang bermanfaat bagi pertanian khususnya untuk memperbaiki kondisi tanah. Dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :
  • Dekomposer, yang digunakan untuk mempercepat dekomposisi / penguraian sisa-sisa bahan organik menjadi pupuk organik alami. Contohnya dari golongan bakteri adalah lactobacilus, dan dari golongan fungi adalah streptomyces. Aplikasinya pada saat pembuatan kompos atau untuk mempercepat fermentasi pupuk kandang.
  • Biofertilizer, atau pupuk hayati, berupa mikroorganisme yang mengubah senyawa organik dan anorganik menjadi unsur hara tersedia bagi tanaman, misalnya rhizobium yang menambat N2 bebas, nitrobakter, nitrosomonas, mikoriza arbuskula, bacillus subtillis, pelarut fosfat. Agar tidak terlalu boros aplikasinya cikup pada area perakaran saat pengolahan tanah, atau ditaburkan di area lubang tanam sebelum benih ditanam.
  • Biopestisida dan antibiotik yang berperan untuk menekan hama tanah dan mikroorganisme patogen yang terinfestasi pada tanah. Yang termasuk jenis ini diantaranya metharhizium anisoplae yang dapat menginfeksi hama tanah seperti uret dan ulat-ulat tanah, trichoderma sp dan gliocladium sp untuk menekan fusarium dan rebah batang.  

 


--- Selamat berusaha ! Jaga kelestarian tanah karena merupakan aset paling berharga dalam bertani.