ARTIKEL

Layu pada Cabai, Tomat dan Terong - Bag. 1 (Bakteri)


Widodo Dripp

Minggu,10 Maret 2019

Layu pada Cabai, Tomat dan Terong - Bag. 1 (Bakteri)

     

Cabai, tomat, paprika, terong, kentang dan tembakau merupakan tanaman dari keluarga solanaceae (terung-terungan) yang lazim dibudidayakan di Indonesia. Ciri utama solanaceae antara lain mahkota bunga berbentuk terompet atau bintang yang berjumlah lima buah; memiliki kelopak, satu putik, dan lima benang sari; buahnya terletak di atas dasar bunga; dinding buah terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan tipis dan lapisan dalam tebal yang berupa kotak buah dan di dalam kotak ini terdapat banyak biji. Tanaman solanaceae tergolong cukup rawan terhadap layu. Penyebab layu dikelompokkan menjadi 2 faktor yaitu layu karena faktor fisiologis seperti kekurangan air atau kekeringan, dan layu patogenik yang disebabkan oleh jamur maupun bakteri.

Pada artikel kali ini kita hanya membahas layu karena faktor patogenik, yaitu oleh serangan jamur dan bakteri patogen karena dampak serangannya yang hampir mirip dan sulit dibedakan jika tidak diamati secara seksama. Dalam tulisan ini akan dijelaskan apa saja dan bagaimana membedakannya, serta langkah-langkah pencegahan berikut pengendalian hingga pemulihan tanaman. Karena cukup panjang dan detail, tulisan akan dibagi menjadi 2 bagian :

  • Bagian 1 : Layu Bakteri (di halaman ini)
  • Bagian 2 : Layu Fusarium

LAYU BAKTERI

Bakteri yang menyerang tanaman cabai, terong, tomat, kentang dan tembakau berasal dari strain yang sama yaitu Ralstonia Solanacearum yang sebelumnya dikenal dengan Pseudomonas Solanacearum. Karena penamaan pseudomonas kurang spesifik maka belakangan seorang ilmuwan bakteriologi Amerika bernama Ericka Ralston membuat penamaan strain yang lebih khusus menjadi Ralstonia yang diambil dari namanya.  Merupakan salah satu patogen tular tanah (soil borne) yang hidup pada suasana aerobik, berkembang biak dengan membelah diri, bergerak secara mandiri (motile) dan berpindah lokasi lebih jauh dengan bantuan aliran air. Ralstonia solanacearum mampu bertahan di tanah selama bertahun-tahun dalam kondisi dorman (tidur). Sewaktu-waktu aktif kembali dan virulen pada saat kondisi lingkungan sesuai yaitu tanah lembab, cukup oksigen dengan suhu hangat berkisar 24o – 35o, dan tentu saja terdapat terdapat tanaman inang yang sedang lemah. Oleh karenanya lahan pertanian yang punya sejarah serangan bakteri ini sangat berpotensi untuk suatu saat terserang kembali.

Ralstonia solanacearum menginfeksi tanaman melalui pelukaan pada organ tanaman, biasanya akar atau bagian bawah pangkal batang. Pelukaan tersebut bisa karena serangan nematoda, hama tanah seperti ulat tanah, luka mekanis karena taju atau alat, bahkan melalui akar yang mati dan membusuk oleh patogen lain. Oleh karenanya pengendalian layu ralstonia solanacearum tidak bisa berdiri sendiri melainkan harus dikombinasi dengan penanganan penyebab luka akar. Misanya jika akar luka oleh nematoda, maka harus dikombinasi dengan nematisida.

Meski sekilas hampir sama dengan layu karena jamur, layu oleh Ralstonia solanacearum mempunyai ciri dibawah ini :

  1. Pada tahap awal serangan, kelayuan tidak terjadi secara mendadak melainkan terjadi di siang hari saat cuaca panas dan pada sore harinya tanaman kembali segar. Kondisi ini berlangsung beberapa hari hingga akhirnya layu total dan, daun-daun menguning dan berguguran, berujung pada kematian tanaman.
  2. Pada umumnya serangan tidak meluas, hanya beberapa batang tanaman yang terserang. Tapi pada tanah yang terjangkit nematoda akut, kelayuan akan terjadi secara luas hampir ke semua tanaman.
  3. Apabila tanaman dipotong pada pangkal batang dan dicelupkan ke dalam air bersih beberapa saat akan keluar cairan putih susu dari bekas potongan. Test ini disebut dengan “stem-streaming test” atau uji aliran batang (gambar 1).
  4. Pada tanaman yang sudah parah, jika batang bagian bawah dibelah akan tampak warna cokelat hingga kerusakan pada jaringan xilem yang merupakan jalur pengangkutan air dan unsur hara sebagai bahan baku fotosintesis dari akar ke daun, sedangkan kulit batang tidak tampak adanya kerusakan (gambar 2).

 

 

Gambar 1 : Ciri infeksi bakteri melalui test aliran batang

 

 

Bambar 2 : kerusakan jaringan xilem oleh infeksi ralstonia solanacearum 

 

Upaya Pencegahan :

  1. Hindari terjadinya pelukaan pada bagian bawah tanaman baik karena taju / alat pertanian, serangan ulat tanah maupun nematoda.
  2. Perendaman bibit dengan larutan bakterisida, atau lakukan penyemprotan bakterisida pada lubang tanam sebelum bibit ditanam.
  3. Kurangi pemupukan yang mengandung unsur N tinggi terutama dalam bentuk urea dan nitrat.
  4. Jaga drainase agar tanah tidak selalu dalam keadaan tergenang dan terlalu lembab.
  5. Pengapuran lahan dengan dolomit saat olah tanah cukup membantu untuk menebalkan dinding sel akar sehingga tidak mudah terluka.
  6. Gunakan pupuk kandang atau kompos yang sudah benar-benar terdekomposisi maksimal. Penggunaan trichoderma SP dan asam humat (HUMALIT) yang dicampurkan pada pupuk kandang dapat membantu menekan koloni Ralstonia solanacearum.
  7. Jika pada 2 musim terakhir tanaman selalu mengalami layu bakteri sebaiknya lakukan rotasi tanaman dengan tanaman lain yang tidak sefamili dengan solanaceae setidaknya selama 2 tahun hingga bakteri ini mengalami avirulen.

Pengendalian jika tanaman sudah terserang :

Layu bakteri bisa dikendalikan hanya pada awal-awal serangan dengan tanda-tanda dedaunan yang lemas terkulai karena tanaman mengalami dehidrasi. Jika kondisi ini dibiarkan beberapa hari kemudian kelayuan akan permanen dimulai dari ujung tanaman maupun dedaunan bagian bawah. Semakin dini semakin besar kesempatan untuk sembuh. Pengendalian akan terasa berat dan percuma ketika jaringan xilem sudah rusak, yang artinya tanaman tidak lagi mendapat suplai air dan nutrisi dari akar sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis.

  1. Jika ditemukan hanya beberapa batang tanaman yang terserang segera cabut tanaman yang terinfeksi sekaligus ambil tanah di bekas lubang tanamnya dan buang ditempat jauh atau dibakar. Kocor lubang tanam bekas tanaman sakit itu dengan bakterisida.
  2. Cari tahu apa penyebab pelukaan pada akar tanaman sehingga bakteri bisa masuk, dan kendalikan sesuai penyebabnya.
  1. Apabila serangan mulai menjalar ke tanaman yang semula sehat dengan ciri daun mulai tampak lemas, semprotkan pupuk daun PRONUM dan MICRONSEL dosis ringan dengan GLOSS. Tindakan ini merupakan langkah emergensi untuk mensuplai unsur hara melalui daun, karena xylem telah mengalami gangguan dalam mengangkut air dan unsur hara ke daun.
  1. Gunakan bakterisida streptomycin sulfate / kasugamycin secara tunggal dengan cara kocor langsung ke perkaran tanaman di sekitar tanaman sakit. Selain dikocorkan, bakterisida juga disemprotkan 1 minggu berikutnya. Untuk membantu penetrasi ke jaringan tanaman campurkan dengan GLOSS 0,25 ml per liter.

Berikutnya : Layu Fusarium >>


Titik awal suatu kesuksesan adalah mensyukuri keadaan saat ini, kemudian melangkah menuju usaha perbaikan.