ARTIKEL

Mengenali Jenis-jenis Adjuvan untuk Pertanian


Widodo Dripp

Kamis,14 Maret 2019

Mengenali Jenis-jenis Adjuvan untuk Pertanian

     

Arti adjuvant dalam bahasa Indonesia adalah “pembantu / penunjang”. Dalam agrochemical istilah ini dipakai untuk menyebut setiap pendukung bahan aktif pada formulasi pestisida agar siap pakai, serta sebagai bahan pembantu dalam aplikasi pestisida di lapangan / lahan untuk meminimalkan kendala-kendala, meningkatkan efektivitas terhadap sasaran dan efisiensi / penghematan.

Berdasarkan penggunaannya ada 2 jenis adjuvan :

  1. UTILITY ADJUVANT

Setiap pestisida tentu mengandung bahan aktif pekatan dalam konsentrasi tertentu. Bahan aktif ini dalam bentuk murni tanpa campuran apapun tidak siap digunakan karena selain sangat beracun, belum bisa bercampur air, mudah terpengaruh pH, suhu dan juga masih reaktif terhadap campuran lain. Agar siap digunakan, bahan aktif tersebut harus diformulasi dengan bahan pendukung yang disebut bahan non aktif yang terdiri dari pelarut  atau solvent (untuk bentuk cairan), pembawa atau carrier (untuk bentuk tepung) dan adjuvan.

Adjuvan yang ditambahkan dalam suatu formula pestisida oleh pabrik pembuatnya inilah yang disebut utility adjuvant, yang jenisnya terdiri dari :

  1. Emulsifier, yaitu bahan pembentuk emulsi (butiran-butiran bahan aktif yang tidak bisa bercampur air) saat pestisida diencerkan air. Digunakan untuk pestisida berformulasi EC (emulsifiable concentrate).
  1. Dispersant (penyebar), yaitu bahan penyebar molekul, suspensi, emulsi, atau tepung pestisida dalam air. Biasanya dipakai pada pestisida berformulasi WP, WSC, WDG.
  2. Compatibility agent, untuk menstabilkan struktur kimia bahan aktif agar tidak berubah jika pestisida tersebut nantinya dicampur dengan pestisida lain atau dengan pupuk daun maupun ZPT. Compatibility agent juga dipakai dalam produk pestisida yang mengandung lebih dari 1 bahan aktif, agar masing-masing bahan aktif tidak saling menimbulkan reaksi kimia.
  3. Co-solvent, yang berfungsi untuk meningkatkan kelarutan bahan aktif pestisida, atau menunjang fungsi bahan pelarut atau solvent yang digunakan.
  4. Buffer, yaitu bahan penyangga pH dan struktur kimia bahan aktif agar tidak dipengaruhi oleh pH air pengencer nantinya saat diaplikasikan sehingga daya kerjanya tetap terjaga.
  5. Suspension agent, yaitu bahan untuk menjaga bahan aktif tetap tersuspensi dan tidak mengendap, sehingga pengguna nantinya tidak perlu mengocok lagi ketika akan digunakan.
  6. Deposition agent, yaitu bahan untuk membuat pestisida mau melekat pada sasaran semprot. Bisanya disebut juga “sticker”. Lawannya adalah anti-deposition agent, yang mencegah suatu partikel menempel pada permukaan, misalnya pada sabun cuci piring.

         Adjuvan jenis apa saja yang dipakai dalam formula pestisida tergantung pada bentuk formulasinya, misalnya emulsifier dipakai dalam formula EC, dispersant dipakai untuk formula WP, suspension agent dipakai pada formula WSC.  Adakalanya kualitas suatu merek pestisida dibandingkan dengan  merek pesaing dengan bahan aktif sama ditentukan oleh kualitas dan komposisi bahan-bahan inert-nya terutama adjuvant yang dipakai. Pestisida merek A dengan kadar bahan aktif lebih tinggi bisa saja kalah efikasi dengan merek B yang bahan aktifnya lebih rendah tetapi mempunyai komposisi bahan-bahan inert yang lebih bagus. Sehingga rahasia formula suatu merek pestisida bukan terletak pada bahan aktif semata tetapi juga pada komposisi bahan inert dan banyak pula yang dipatenkan oleh produsen / formulatirnya.

  1. TANK MIX ADJUVANT

Jika tadi utility adjuvant gunanya untuk membuat suatu formula pestisida siap pakai dalam kondisi normal dan standar, maka pertimbangan selanjutnya adalah bagaimana jika kondisi lapangan berbeda?  Misalnya di saat musim hujan bahan aktif mudah tercuci oleh hujan, saat cuaca terik dimana pestisida lebih cepat mengering karena penguapan sebelum bekerja secara optimal, sasaran semprot sulit basah oleh air karena berlapis lilin, dan beberapa kondisi lainnya. Maka diperlukan bahan tambahan untuk memperbaiki performa pestisida yang disebut tank mix adjuvant yaitu bahan-bahan pendukung yang ditambahkan pada saat pestisida akan digunakan. Tank mix adjuvant ini umunya berupa produk tersendiri yang dibuat oleh produsen dan sudah banyak dijual di toko-toko pertanian.

  1. Surfactant

         Surfactant singkatan dari Surface Active Agent yang artinya suatu bahan yang menentukan aktivitas zat di suatu permukaan. Dalam bidang sanitasi surfaktan digunakan dalam produk sabun, gunanya untuk meningkatkan daya cuci dan membantu melepas kotoran dengan mudah. Dalam industri tambang surfaktan digunakan dalam pengeboran tanah. Sedangkan dalam pertanian surfaktan digunakan untuk mengkondisikan memperbaiki performa pestisida pada permukaan sasaran misalnya di permukaan daun. Surfactant terdiri dari :

  1. Spreader, yaitu bahan untuk menurunkan tegangan permukaan bahan semprot / air pada permukaan daun sehingga butiran semprot menyebar merata ke seluruh permukaan daun.
  2. Drift retardant, yaitu bahan pemecah ikatan antar molekul air sehingga saat air keluar dari nozel akan membentuk butiran halus berkabut, saat mengenai sasaran semprot dapat menyebar rata tidak membentuk blok-blok atau droplet.
  3. Pembasah / wetting agent, yaitu bahan untuk membantu pembasahan pestisida terutama pada daun tanaman yang berlapis lilin dan kulit serangga yang berlapis chitin.
  4. Sticker / perekat, yaitu jenis tank mix aduvant yang mengandung deposition agent untuk melekatkan bahan aktif pestisida pada permukaan sasaran semprot (daun atau kulit hama), sehingga tidak mudah tercuci oleh hujan.
  5. Penetrant, yanitu jenis tank mix aduvant yang berfungsi untuk memudahkan penetrasi (penembusan) pestisida sistemik melalui stomata dan kutikula daun hingga ditranslokasikan ke seluruh jaringan jaringan tanaman. Jika digunakan pada insektisida kontak maka akan membantu penetrasi racun pestisida pada jaringan khitin pada kulit serangga hama maupun cangkang telurnya.

Banyak yang menyebut bahwa surfaktan adalah stiker, sedangkan adjuvan adalah penetran. Sebenarnya antara stiker dengan penetran memiliki kesamaan sekaligus perbedaan. Persamaannya kedua produk tersebut sama-sama tergolong ke dalam jenis tank mix adjuvant, mempunyai karakteristik sebagai surfaktan yaitu menyebar, membasahi dan menghaluskan butiran air. Perbedaannya, stiker hanya aktif di permukaan tanaman yaitu meningkatkan pelekatan pestisida, sedangkan penetran mempunyai kemampuan menembus ke dalam jaringan melewati kuitikula daun, membran sel, serta jaringan khitin pada serangga.  

Contoh produk adjuvan

Selain stiker dan penetran, di luar bidang pertanian ada surfaktan yang lazim disebut sabun dan deterjen. Ya, keduanya termasuk surfaktan juga. Sabun dan deterjen mempunyai kemampuan membersihkan, tapi keduanya punya sedikit perbedaan. Sabun dibuat dari garam alkali dan asam lemak, sedangkan deterjen dibuat dari bahan yang lebih lengkap.  Sabun berguna memberihkan kotoran (deposit) yang menempel berupa lumpur dan kotoran tanah, sedangkan deterjen mempunyai keunggulan dari sabun yaitu meluruhkan (cleansing) noda-noda yang mengandung lemak dengan cara melarutkan lemak tersebut.Contoh produk penetrant dan sticker

Jadi fungsi antara stiker dengan sabun maupun deterjen sebenarnya berlawanan sebagaimana selama ini disalahpahami. Jika stiker menempelkan partikel / emulsi pestisida ke permukaan tanaman, maka menyemprot sabun atau deterjen ke tanaman malah akan mencuci pestisida dari permukaan tanaman. Belum lagi efek detergency dari deterjen yang berpotensi menipiskan lapisan lilin alami yang berfungsi sebagai pelindung alamiah tanaman.

Di sini produk-produk yang termasuk sebagai stiker / perekat adalah BENAWET, RATAFOL, PLASSMA

Sedangkan yang termasuk sebagai penetrant adalah GLOSS.

TIPE-TIPE SURFAKTAN

Dalam memilih produk surfactant sebaiknya perlu mengetahui tipe-tipe surfaktan karena tidak semua produk surfactant cocok untuk semua jenis pestisida. Dalam hal ini muatan ion dan pH surfactant bisa mempengaruhi stabilitas pestisida. Berdasarkan muatan ionnya surfactant dibagi menjadi 3 :

  1. Anionik, yaitu surfactant yang bermuatan ion negatif (anion). Surfactant jenis ini kebanyakan golongan alkylbenzene. Golongan anionik inilah yang kebanyakan termasuk dalam deterjen. Karena sifatnya yang asam sehingga banyak dipakai untuk produk-produk pembersih seperti sabun cuci atau pencuci piring. Keasaman surfaktan anionik cukup baik untuk meluruhkan kotoran-kotoran berupa minyak atau lemak. Oleh karena sifatnya yang asam sehingga dapat menurunkan pH permukaan daun. Selain itu surfaktan anionik tidak boleh dicampur dengan pestisida alkali seperti tembaga hidroksida dan oksida.
  2. Kationik, bermuatan ion positif (kation). Tidak bisa dicampur dengan pestisida atau maupun pupuk foliar terutama yang bersifat asam, dan daya pembasahnya rendah. Surfaktan kationik biasa digunakan sebagai desinfektant untuk sterilisasi alat-alat, permukaan mulsa sebelum ditanami, dan desinfeksi kandang ternak. Meski berspektrum luas untuk berbagai mikroorganisme patogen jenis ini tidak bisa digunakan secara langsung pada tanaman karena dapat merusak formula pestisida, merusak permukaan tanaman dan merusak sel-sel tanaman.
  3. Non-ionik, tidak mempunyai muatan ion (netral) sehingga jenis ini dapat dipakai untuk semua jenis pestisida baik kontak atau sistemik, baik yang ber-pH asam maupun alkali.  Sifat non-ionik ini penting untuk menghindari terjadinya reaksi kimia antara pestisida dengan surfaktan itu sendiri yang berakibat pada berubahnya struktur kimiawi pestisida sehingga efikasinya menurun.