ARTIKEL

Teknik Pemupukan Padi untuk Meningkatkan Hasil Panen


Widodo Dripp

Sabtu,01 Mei 2021

Teknik Pemupukan Padi untuk Meningkatkan Hasil Panen

2215

     

Padi (Oryza sativa L.) termasuk dalam suku padi-padian atau poaceae (gramineae). Tanaman terna (berbatang lunak dan tidak berkayu), berumur semusim, berakar serabut, struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang daun sempurna dengan pelepah tegak. Bentuk daun lanset berwarna warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar, tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang. Sedangkan bagian bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang, satuan bunga disebut floret. Tipe buah bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya, bentuknya lonjong, tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur dominan padi yang biasa dikonsumsi yaitu jenis endospermium atau yang biasa disebut bulir.

 

Beberapa Teknik Budidaya

Teknik budidaya padi telah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Selama ini dikenal beberapa sistem budidaya untuk padi:

  • Budidaya padi sawah, diduga dimulai dari wilayah lembah Sungai Yangtse di Tiongkok.
  • Budidaya padi lahan kering, dikenal manusia lebih dahulu daripada budidaya padi sawah. Penanaman padi dilakukan pada lahan-lahan kering atau tegalan.
  • Budidaya padi lahan rawa, dilakukan di beberapa tempat di Pulau Kalimantan.
  • Budidaya gogo rancah atau disingkat gora, yang merupakan modifikasi dari budidaya lahan kering. Sistem ini sukses diterapkan di Pulau Lombok, yang hanya memiliki musim hujan singkat.

Setiap sistem budidaya memerlukan kultivar yang adaptif untuk masing-masing system atau tipe lahan. Misalnya kelompok kultivar padi yang cocok untuk lahan kering dikenal dengan nama padi gogo.

Secara ringkas, bercocok tanam padi mencakup persemaian, pindah tanam atau penanaman, pemeliharaan (termasuk pengairan, penyiangan, perlindungan tanaman, serta pemupukan), dan panen. Aspek lain yang penting namun bukan termasuk dalam rangkaian bercocok tanam padi adalah pemilihan kultivar, pemrosesan biji dan penyimpanan biji.

Artikel ini hanya membatasi fokus pembahasan pada aspek pemupukan. Untuk aspek-aspek leinnya yang lebih lengkap (Baca: Maksimalkan Panen Padi dengan Metode SRI dan Bumikita).

 

Fase Pertumbuhan Tanaman Padi

Secara umum, masa hidup tanaman padi membutuhkan 120 hari dari tanam hingga  saat dipanen. Selama masa tersebut, tanaman padi akan melewati beberapa fase meliputi:

  1. fase pra tanam / persemaian (-20 - 0 hari), adalah fase yang dimulai saat tebar benih di persemaian. Fase ini tidak berlaku pada sistem penanaman tabela (tebar benih langsung).
  2. fase vegetatif (0 - 55 hari), adalah fase saat tanaman padi mulai berkecambah, melakukan adaptasi lahan, membentuk perakaran, daun, batang dan anakan secara aktif hingga mencapai inisiasi primordia (awal pembentukan malai).
  3. fase generatif yang terdiri dari 2 masa yaitu :
  • masa reproduktif atau primordia bunga (55 - 85 hari), merupakan fase saat tanaman padi mendiferensiasi sel-selnya membentuk organ-organ reproduktif (bunga malai), pemanjangan ruas-ruas malai, pembentukan daun bendera, hingga membentuk bulir dan pengisian. Pada fase ini pembentukan daun dan anakan baru menurun drastis. Demikian pula ketahanan tanaman mulai menurun, mudah terdampak oleh serangan hama dan penyakit.
  • masa pemasakan (85 - 100 hari), merupakan fase saat pengisian bulir sudah mulai penuh dan memadat, masak kuning, masak penuh, hingga masak mati dimana bulir sudah padat dan berhenti mengisi.

Pada masing-masing fase tersebut di atas membutuhkan perlakuan secara khusus dan spesifik sehingga nantinya padi berkembang dan menghasilkan panen secara optimal. Salah satu aspek yang harus benar-benar diperhatikan adalah pemupukan berdasarkan fase pertumbuhan tanaman padi.

 

Pemupukan Tanaman Padi

Teknik pemupukan tanaman padi sebenarnya cukup relatif dalam hal jenis dan dosisnya. Antara satu wilayah dengan wilayah lainnya bisa berbeda-beda dosis dan komposisinya karena perbedaan jenis dan struktur tanah dan ketersediaan unsur hara awal di tanah.

Namun demikian untuk menghasilkan kualitas pertumbuhan dan hasil panen yang optimal metode pemupukan sebaiknya mengkombinasikan 3 cara:  

  • pemberian pupuk dasar yang dilakukan sebelum penanaman,
  • pemupukan susulan dengan komposisi yang sesuai fase tanaman,
  • pemberian pupuk pelengkap atau dikenal dengan istilah pupuk daun sebagai suplementasi atau langkah korektif jika salah satu atau beberapap pupuk yang diaplikasikan pada tanah tidak terserap / termanfaatkan karena berbagai factor.

Pada lahan-lahan sawah yang sering ditanami secara intensif dan terus menerus dianjurkan penggunaan bahan pembenah tanah berupa dolomit maupun zeolite setidaknya 1 tahun sekali. Tujuannya untuk mengikat sisa-sisa bahan kimiawi pupuk dan zat-zat fenol yang dikeluarkan oleh perakaran pada pertanaman sebelumnya. Adapun penggunaan bahan dekomposer (bahan pengurai sisa-sisa tanaman) boleh dilakukan dengan rentang waktu 1 – 2 minggu sebelum penanaman, ini jika waktunya memungkinkan. Tujuan pemberian dekomposer adalah untuk mempercepat penguraian / dekomposisi sisa-sisa tanaman pada penanaman sebelumnya. Sebab jika penguraian ini terjadi pada saat lahan sudah ditanami maka akan menimbulkan gejala asam-asaman. (Baca: Mengatasi Gejala Asam-Asaman pada Tanaman Padi).

Ada beberapa alternatif pemupukan tanaman padi yang dapat dipilih. Alternatif pertama menggunakan kombinasi pupuk tunggal, alternatif kedua menggunakan kombinasi pupuk tunggal dan pupuk majemuk (NPK). Untuk jenis NPK yang dipakai harus memperharikan jenis lahan. Jika lahan sawah adalah lahan basah, maka gunakan NPK yang bersifat slow release (lepas lambat bentuk granul yang tidak cepat larut contohnya PHONSKA, ). Sedangkan untuk padi lahan kering sebaiknya gunakan NPK yang fast release (lepas cepat, yang mudah larut air contohnya MUTIARA). Komposisi NPK yang digunakan adalah 15:15:15 yang artinya mengandung unsur nitrogen 15%, fosfat 15%, dan kalium 15%.

Jika menggunakan pupuk tunggal :

Umur Urea SP36 KCl
1 hari sebelum tanam - 75 kg/Ha -
7 – 10 hari setelah tanam 75 kg/Ha - 25 kg/Ha
20 – 23 hari setelah tanam 100 kg/Ha 25 kg/Ha -
42 – 45 hari setelah tanam 75 kg/Ha - 75 kg/Ha
TOTAL / Hektar 250 kg 100 kg 100 kg

 

Jika menggunakan kombinasi NPK dengan pupuk tunggal :

Umur NPK Urea SP36 KCl
1 hari sebelum tanam 100 kg/Ha - 25 kg/Ha -
7 – 10 hari setelah tanam - 75 kg/Ha - 25 kg/ha
20 – 23 hari setelah tanam 50 kg/Ha 75 kg/Ha 25 kg/Ha -
42 – 45 hari setelah tanam 50 kg/Ha 50 kg/Ha - 25 kg/Ha
TOTAL / Hektar 200 kg 150 kg 50 kg 50 kg

 

Hal yang penting diperhatikan untuk lahan sawah basah, pada saat penebaran pupuk agar pupuk tidak banyak terbuang atau tercuci maka sebaiknya genangan air disusutkan hingga ketinggian kurang lebih 2 cm dari permukaan tanah, atau disebut kondisi lahan nyemek-nyemek.

 

Penggunaan Pupuk Daun

Sering tanpa kita sadari, tidak semua pupuk pada tanah bisa terserap dan termanfaatkan dengan baik oleh tanaman. Ada berbagai faktor penghambat dan pembatas diantaranya pH tanah yang terlalu asam, pupuk terbuang bersamaan aliran air terutama sehabis hujan, pupuk terdegradasi karena dimanfaatkan mikroba patogen untuk berkembang biak terutama unsur N.  Akibatnya masih tetap terjadi ketidakseimbangan unsur hara.

Maka sebagai langkah korektif sekaligus antisipasi, aplikasi pupuk daun adalah penting. Pemberian pupuk daun selama ini juga terbukti mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil panen, dengan catatan pupuk daun yang kita gunakan tersebut formulanya tepat dan mudah diserap serta dimanfaatkan oleh tanaman. 

Berikut ini jenis dan waktu penggunaan pupuk daun yang kami rekomendasikan:

  1. Fase vegetatif : Aplikasi FOCUS A (2 ml/liter air) pada usia 15, 22, 29 hari setelah tanam
  2. Masa inisiasi malai :  Aplikasi FOCUS P (2 ml/liter air) pada usia 55, 62 hari setelah tanam
  3. Persiapan fase generatif :  Aplikasi FOCUS K (2 – 3 ml/liter air) pada usia 75,  82 hari setelah tanam.

Disamping pupuk daun tersebut di atas, ada beberapa lagi yang bisa diaplikasikan untuk merespon kondisi tanaman maupun cuaca. Diantaranya:

  • KLINOP, sebagai campuran untuk fungisida dan insektisida kontak, dengan dosis penggunaan 2 gram per liter air.
  • GLOSS, sebagai bahan perata, pembasah dan penembus yang diaplikasikan sebagai campuran pupuk daun maupun pestisida dengan dosis penggunaan 0,25 – 0,5 ml/literv air.
  • HUMALIT, merupakan produk asam humat, diaplikasiken dengan cara dicampur pupuk makro dengan perbandingan 1 kg Humalit untuk tiap 100 kg pupuk makro.
  • INTERSIL, merupakan pupuk kalium silika yang berfungsi untuk meningkatkan kekuatan figur tanaman dan meningkatkan kualitas gabah, diaplikasikan sebagai pengganti FOCUS K. 
  • MICRONSEL, merupakan pupuk mikro, digunakan untuk mempercepat pemulihan sel-sel tanaman setelah terserang penyakit maupun kondisi cuaca yang buruk.

 


"Terbukanya jendela wawasan petani, menandai kebangkitan besar mereka"